25 November 2012 - 05:23

"Memperingati hari Asyura wajib hukumnya. Sebab dalam peringatan Asyura banyak pelajaran yang bisa kita ambil. Peristiwa Asyura ibarat sebuah universitas yang mengajarkan banyak hal dalam kehidupan ini."

Menurut Kantor Berita ABNA, Ust. Ali Pasolowongi, Lc dalam ceramah yang disampaikan di depan puluhan mahasiswa Indonesia asal Sulawesi yang tergabung dalam Kerukunan Keluarga Sulawesi (KKS) Qom-Iran Sabtu (24/11) menyatakan, "Memperingati hari Asyura wajib hukumnya. Sebab dalam peringatan Asyura banyak pelajaran yang bisa kita ambil. Peristiwa Asyura ibarat sebuah universitas yang mengajarkan banyak hal dalam kehidupan ini."

Menukil pernyataan Ayatullah Murtadha Muthahari mengenai Asyura, mahasiswa jurusan Filsafat pasca sarjana Universitas Imam Khomeini tersebut melanjutkan ceramahnya, "Sebagaimana yang disebutkan Ayatullah Muthahari bahwa mengenang Asyura itu mampu menghidupkan kembali sisi spritual dan maknawi kita. Asyura mampu memberi spirit baru dan semangat untuk kita menjalani kehidupan sampai tahun kedepannya. Karenanya, kita sebagai pecinta al Husain harus berbangga dan bersenang hati karena memiliki Asyura. Sebuah peristiwa yang hanya sekali terjadi di dunia ini. Tidak pernah dialami oleh orang-orang sebelumnya dan orang-orang setelah Imam Husain as. Kita bersyukur memiliki dan memperingatinya sekaligus berduka atas kedukaan yang menimpa imam Husain dan keluarganya."

"Memperingati kesyahidan Imam Husain sangat dianjurkan dan akan diganjar dengan pahala yang besar. Setiap momentum memiliki fadilah dan keutamaannya sendiri. Dan kita semua sudah mengetahui mengenai keutamaan melakukan majelis-majelis duka mengenang terbantainya cucu Nabi di Karbala." Lanjutnya.

Pada bagian lain ceramahnya, Ust. Ali Pasolowongi mengatakan, "Kita yakin, bahwa imam Husain as lebih rasional dari orang-orang dimasanya. Namun mengapa tidak menghindarkan diri dari peristiwa Karbala?. Mereka yang rasional dimasanya telah memperingatkan Imam akan keniscayaan kematiannya jika tetap menuju Karbala. Namun bukan saja tidak menuruti nasehat itu, imam Husain bahkan membawa seluruh keluarganya turut menyertainya menuju Karbala. Sebuah tindakan yang bagi kebanyakan orang tidak rasional."

"Kita harus memahami, bahwa keputusan Imam Husain keluar dari Makah menuju Karbala bukanlah pilihan yang terpaksa diambil. Melainkan Imam melakukannya dengan penuh kecintaan. Bisa saja Imam Husain memilih menghindar, namun tugas dan amanah beliau sebagai imam mewajibkan beliau memilih keputusan yang berujung pada tragedi di Karbala. Imam keluar untuk menegakkan amar ma'ruf nahi mungkar. Jika nabi Muhammad saw kakeknya yang membawa Islam, maka Imam Husain yang menghidupkannya. Kebangkitan Imam Husain melestarikan Islam dan tauhid. Di masa Yazid, Islam hampir terlupakan, dimasa-masa genting seperti itulah Imam Husain melakukan revolusi tauhid untuk membuka kedok kebobrokan rezim Yazid." Papar mahasiswa asal kabupaten Barru terssebut.

Ust. Ali melanjutkan, "Ideologi Imam Husain dalam kebangkitannya adalah kebenaranlah yang pasti akan menang. Sementara musuh-musuh Imam memandang bahwa yang prinsip adalah materi. Bahwa kekuatan dan kemenangan adalah milik mereka yang kuat secara materi. Kebangkitan imam Husain mementahkan ideologi musuh itu. Meskipun imam Husain syahid dan terbunuh namun pada hakikatnya kemenangan berpihak pada imam Husain."

Beliau melanjutkan, "Ayatullah Jawad Amuli membagi jihad itu menjadi tiga bagian, jihad kecil, jihad pertengahan dan jihad akbar. Peperangan yang terjadi di Gaza beberapa hari lalu terkategori sebagai jihad kecil. Sementara peperangan memerangi hawa nafsu itu menurut Ayatullah Jawad Amuli barulah terkategori sebagai jihad pertengahan yakni pilihan antara hawa nafsu dan akal. Sementara jihad yang lebih besar lagi adalah kondisi yang memperhadapkan kita untuk memilih antara akal atau cinta. Jihad yang dilakukan imam Husain terkategorikan sebagai jihad akbar. Imam Husain memilih cinta, sebab akal tidak bisa mendorong seseorang untuk menjemput syahadah. Kecintaanlah yang mampu membuat orang begitu semangat memilih mati untuk meraih kemenangan. Orang-orang memperingakan imam Husain, bahwa menurut akal pilihan imam Husain tidak logis dan rasional. Sama halnya di masa perjuangan imam Khomeini, orang-orang memperingatkan bahwa usahanya untuk menumbangkan rezim Pahlevi itu akan sia-sia. Sangat tidak logis imam Khomeini yang tidak memiliki senjata dan pasukan militer sedikitpun akan mampu menumbangkan rezim yang memiliki kekuatan militer terkuat kelima di dunia. Namun karena beliau melakukan semua perjuangan tersebut dilandaskan kecintaan pada agamanya, maka prediksi-prediksi berdasarkan logika itu berhasil dimentahkan."

Mahasiswa yang juga diamanahkan sebagai Sekretaris Umum KKS periode 2012-2014 ini menutup ceramahnya dengan memesankan peringatan Asyura harus terus dilakukan setiap tahun sebab telah menjadi syiar Islam meskipun banyak yang tidak menyukainya termasuk dari kalangan kaum muslimin sendiri.

Turut hadir dalam acara yang berlangsung dari pukul 18.00 sampai 22.00 Hujjatul Islam Ismail Khan, Deputi Urusan Keluarga Universitas Internasional al Mustafa Qom yang memesankan pada malam kesepuluh Muharram tersebut untuk mengeluarkan sedekah yang dimaksudkan untuk keselamatan Imam Zaman afs sebagaimana yang dipesankan oleh Ayatullah Bahjat rahimahullah. Acara yang berlangsung di kediaman Ir. H. Muhammad Adlani, MA tersebut dibuka dengan bacaan ayat-ayat Al-Qur'an oleh Ali Akbar Kamil dan pembacaan do'a ziarah yang dipimpin oleh ust. Soeltan Nur, Lc. Acara peringatan Asyura KKS tersebut juga diisi dengan pembacaan Sajak Prahara Karbala oleh Alfin Syair dan pembacaan maqtal oleh ust. Rahman Dahlan. Setelah makan malam bersama, acara yang dihadiri lima puluhan orang tersebut ditutup dengan pengumpulan sedekah.